
Walau diberi label omnibus,
terdiri dari lima cerita dan digarap oleh sutradara yang berbeda,
“Dilema” dipresentasikan agak berbeda dengan film berjenis sama seperti
“Jakarta Maghrib”, yang setiap segmennya diceritakan satu-persatu,
disertai dengan judul juga, satu segmen selesai baru pindah ke segmen
lain, tetap akan ada benang merah yang mengikat semua segmen. Sedangkan
“Dilema” memilih untuk melebur kelima segmennya menjadi satu cerita yang
utuh, tidak dipisah-pisah tapi ditumpuk. Awalnya
memang sulit dicerna, tapi lama-kelamaan “Dilema” bisa menemukan titik
fokus apa yang mau diceritakan, saya tentu saja mulai nyaman menonton,
berilah film ini kesempatan untuk berbicara, tidak perlu dipotong.
Menonton film ini di jam terakhir penayangannya di bioskop yang letaknya
berdekatan dengan sebuah hotel, saya kecewa ketika melihat hanya ada
dua titik merah diantara banyaknya warna biru, yang artinya baru dua
orang saja yang membeli tiket film ini. Film dimulai, ah ternyata
“Dilema” hanya ditonton tiga orang, termasuk saya, seperti sebuah private screening saja. Tapi itu tidak mengendurkan niat saya menonton, satu penonton pun datang menambah jumlah kami menjadi 4 orang. Semangat!
Film dibuka dengan adegan sekelompok
orang yang sedang melakukan aksi serang terhadap kelompok agama lain
yang mereka anggap sesat, kericuhan tak terhindari, polisi berusaha
melerai kedua pihak yang bertikai tapi aksi lempar dan adu jotos tetap
saja terjadi. Kisah ini masuk dalam segmen berjudul “Garis Keras”
disutradarai oleh Robby Ertanto Soediskam (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita).
Seperti yang saya utarakan di paragraf pembuka, segmen tersebut akan
berbaur dengan segmen lainnya, nanti kita juga akan disuguhkan oleh
kisah seorang perwira polisi bernama Bayu Sustoyo (Ario Bayu) yang
ditugaskan berpatroli bersama seniornya, Bowo (Tio Pakusadewo) di hari
pertamanya, kisah yang mirip-mirip “Training Day”-nya Denzel Washington
ini akan ber-cap “The Officer”, disutradarai oleh Adilla Dimitri. Kita
pun nanti akan melihat Bayu dan Bowo menyelip masuk ke segmen “Garis
Keras” , berada di tempat kejadian kerusuhan antara kelompok agama.
Semua saling terkait, tidak saja oleh lokasi tapi juga karakter yang
hilir mudik di film ini.
Di segmen lain, “The Big Boss”, seorang
arsitek muda yang sukses bernama Adrian (Reza Rahadian), tiba-tiba
dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang tidak dikenal tapi
tampaknya “berkuasa”. Wanita paruh baya yang belakangan diketahui
bernama Hetty (Jajang C. Noor) tersebut meminta Adrian untuk datang
menemui seseorang yang disebut “Bapak”, sambil meninggalkan kartu nama
berinisial SW. Kemudian ada segmen “Rendezvous”, menceritakan seorang
gadis bernama Dian (Pevita Pearce) yang ingin sendirian tetapi terganggu
oleh pesta di sebelah cottage-nya. Seorang cowok sempat mengundangnya untuk join
di pestanya, tetapi Dian yang sedang asyik berjemur, berharap
kegalauannya hilang dibakar sinar matahari, menolak mentah-mentah ajakan
tersebut. Lalu muncullah sosok wanita ramah dan terlihat “ada
apa-apanya” menghampiri Rima (Wulan Guritno), yang akhirnya bisa membuat
Dian datang ke pesta dan membuka diri. Di tempat lain, segmen yang juga
berbeda, “The Gambler”, Sigit (Slamet Rahardjo) mengunjungi tempat lama
biasa dia kumpul dengan teman-temannya. Sayang, teman-teman lama sudah
tidak kesana, di tempat judi bawah tanah yang ramai dengan orang-orang
yang buang-buang uang ini Sigit ingin berjudi sekali lagi untuk menebus
arloji warisan keluarga.

Jika film ini terlihat seperti lima
cerita berbeda yang dibuat oleh orang yang beda, wajar karena “Dilema”
memang dibuat seperti itu, walau sudah dibuat berbaur dari segmen ke
segmennya, layaknya satu cerita film yang utuh, tetap saja saya melihat
sebuah ketimpangan dari segi bercerita masing-masing segmen. Belum lagi,
ketika film ini sudah bermain-main dengan tumpukan scene-nya,
cara “Dilema” membagi dan memotong masih saya rasakan agak kasar, jadi
ketika saya sedang asyik untuk memahami segmen yang satu, tiba-tiba film
ini pindah ruang menyoroti segmen lain dan begitu seterusnya. Saya
sedikit agak malas ketika film yang diproduseri oleh Wulan Guritno ini
kembali menceritakan Adrian dan kaitannya dengan karakter SW yang juga
mengikat benang merah dengan karakter lain di film ini. Bukan karena
segmen ini yang paling lemah menurut saya tetapi juga dipresentasikan
dengan kaku, saya tidak merasakan emosi yang hadir ketika Adrian dan SW
“berhadapan”. Jika ditanya mana segmen yang paling menarik, saya akan
menjawab “Garis Keras” dan “The Officer”, tapi keduanya pun sama-sama
berbagi kekurangan dalam hal pendalaman karakter, setiap segmen mengikat
tapi tidak berusaha mengikat emosi dan simpati dengan penontonnya,
setiap adegan muncul sekedar “numpang lewat” dan jujur tidak banyak yang
membekas setelah saya keluar dari bioskop.
Ok “Dilema” tidak lepas dari kekurangan
ini dan itu, tapi saya tidak buru-buru juga langsung men-cap “film
jelek”, “Dilema” masih berada di posisi yang aman, sanggup menghibur
dengan caranya sendiri membangun cerita, lengkap dengan beberapa kejutan
yang sengaja disimpan, untuk pada akhirnya saya berkata “Oh… begitu ya”
dan “Ternyata ada hubungannya…”. Well, “Dilema” ini pun
sanggup mengumpulkan banyak pemain yang secara mengejutkan Reza Rahadian
dan kawan-kawan mampu menampilkan performa akting yang bagus, setiap
pemain sanggup memaksimalkan porsinya masing-masing untuk melebur ke
dalam cerita. Itu termasuk Pevita Pearce yang mampu menghidupkan
karakternya yang galau tidak karuan, dan kemudian sukses membuat saya
terkejut dengan aktingnya yang “berani”. Setiap segmen yang dileburkan
menjadi satu dalam “Dilema” punya kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Menarik melihat cara film ini berusaha dengan kreatif
menghubungkan satu segmen dengan segmen lainnya, walaupun kurang nyaman
ketika mengajak saya berpindah ruang untuk melihat segmen berikutnya,
serasa diseret. Sederet pemain untungnya mampu mengerjakan pekerjaan
rumahnya dengan baik, “Dilema” pun hadir menjadi semacam ajang pamer
akting-akting aktor dan aktris yang tidak lagi asing di mata kita. Tidak
istimewa, tapi “Dilema” tetap wajib ditonton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar