Senin, 05 Maret 2012

Pendidikan Orang Dewasa

Belajar merupakan suatu proses yang dapat dilakukan oleh semua golongan umur, termasuk orang dewasa. Hanya saja dalam prosesnya, pembelajaran orang dewasa berbeda dengan anak-anak, karena mereka cenderung tidak mau ditutori. Orang dewasa akan merasa nyaman saat belajar ketika dia dihargai dan diarahkan dalam berbagai segi, seperti bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan pendapat. Praktek-praktek pendidikan orang dewasa tidak banyak berbeda dari pendidikan anak, demikian pula perlakuan kepada orang dewasa tidak banyak dibedakan dalam kegiatan pendidikan.
Pendidikan orang dewasa juga dikenal dengan istilah andragogi. Andragogi berasal dari bahasa Yunani “andros” artinya orang dewasa, dan “agogus” artinya memimpin. Pada tahun 1980, Malcolm Knowless mendefinisikan andragogi sebagai berikut: “the science and arts of helping adults learn”.[1] Kalimat tersebut diartikan ke dalam bahasa Indonesia, maka Knowles mengatakan bahwa andragogi merupakan seni dan ilmu dalam membantu orang dewasa untuk belajar.
Andragogi adalah pendidikan pendekatan orang dewasa yang menempatkan individu sebagai subjek dari sistem pendidikan. Individu sebagai orang dewasa memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah belajarnya, menyimpulkan, mengetahui cara terbaik untuk belajar, serta mampu mengambil manfaat dari pendidikan.
Kegiatan pembelajaran orang dewasa memiliki cara yang digunakan untuk membelajarkan dan berbeda halnya dengan membelajarkan anak-anak. Perbedaan yang mendasar antara kegiatan belajar anak-anak dengan orang dewasa, seperti yang digambarkan Knowles berikut ini: [2]
  1. Konsep diri (self concept)
Konsep diri pada anak mengandung pengertian bahwa ia selalu bergantung pada orang lain dalam melakukan sesuatu, sedangkan orang dewasa cenderung memiliki pemahaman bahwa ia dapat membuatkeputusan serta menentukan apa yang ia kehendaki, artinya ia tidak selalu bergantung pada lingkungan di sekitarnya.
  1. Pengalaman belajar (experience)
Diri anak-anak hampir belum memiliki pengalaman berarti dalam kehidupannya, artinya pengalaman yang diperoleh anak-anak hampir seluruhnya hanya merupakan proses peniruan terhadap orang lain. Pengaruh lingkungan sangat dominan pada diri anak. Berbeda dengan orang dewasa dimana hampir seluruh perjalanan hidupnya adalah pengalaman yang dapat diungkapkan kembali serta sangat mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku sehari-hari. Fasilitator perlu memperhitungkan dengan sungguh-sungguh hal tersebut karena dengan mempertimbangkan pengalaman tersebut sebuah proses pembelajaran dan pelatihan akan dapat lebih efektif.
  1. Kesiapan belajar (readiness to learn)
Orang dewasa dalam belajar pada umumnya sudah siap baik fisik maupun mental karena apa yang mereka pelajari merupakan salah satu kebutuhannya. Artinya, orang dewasa telah sepenuhnya menyadari bahwa proses pembelajaran tersebut adalah sesuatu yang harus dilakukan demi perbaikan dalam dirinya, sehingga ia tidak perlu lagi dinasehati dan terus diingatkan selama proses pembelajaran.
  1. Orientasi belajar (orientation of learning)
Diri orang dewasa sangat terdorong untuk belajar dengan asumsi bahwa belajar merupakan langkah pemecahan masalah yang sedang dan akan ia hadapi. Jadi, keberagaman fenomena dan persoalan yang mereka hadapi mendorong mereka bertindak untuk mengatasinya, salah satunya yaitu dengan belajar. Rogers mengemukakan bahwa orientasi belajar kepada kepentingan warga belajar didik memiliki lima hipotesis, antara lain:
  1. Kita tidak dapat mengajar orang lain secara langsung, kita hanya dapat membantu belajarnya.
  2. Seseorang belajar dengan penuh makna hanya apabila sesuatu yang dia pelajari bermanfaat (terlibat) dalam pengaturan dan pengembangan dirinya.
  3. Pengalaman yang apabila disimpulkan akan menimbulkan perubahan dalam organisasi diri maka akan cenderung untuk dihambat melalui penolakan.
  4. Struktur organisasi diri kelihatan menjadi kaku dalam situasi terancam dan dia akan mengendorkan ikatan itu apabila bebas penuh dari ancaman.
  5. Situasi pendidikan yang secara aktif meningkatkan belajar yang bermanfaat adalah dimana ancaman pada diri warga belajar dapat diminimalisir. [3]
Adapun orientasi belajar pada diri orang dewasa juga dikemukakan oleh Sherman B. Shefield, yaitu:
  • Orientasi belajar: menutut ilmu untuk diri sendiri.
  • Orientasi tujuan pribadi: orang dewasa menuntut pendidikan karena profesi, pekerjaan, kompetensi jabatan dan motivasi ekonomi.
  • Orientasi tujuan masyarakat: orang dewasa belajar karena keperdulian kepada masyarakat.
  • Orientasi untuk bersosialisasi: tuntutan pendidikan karena ingin menemukan hubungan sosial yang baik bagi pribadi dan lingkungan.
  • Orientasi pemenuhan kebutuhan: orientasi yang menitikberatkan tuntutan pendidikan karena ingin memenuhi kepuasan pada lingkungan di mana mereka belajar, seperti menghindari kejenuhan.[4]
c.    Prinsip-prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Penerapkan pembelajaran orang dewasa diperlukan berbagai pengetahuan terkait dengan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Prinsip pendidikan orang dewasa merupakan sebuah pedoman yang akan mempermudah kita dalam mengorganisasikan suatu kegiatan pembelajaran dengan sasaran orang dewasa. Beberapa prinsip pendidikan orang dewasa antara lain:
  1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
  2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
  3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis.
  4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik.
  5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup.
  6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar.
  7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.[5]
Prinsip-prinsip di atas mengandung pengertian bahwa dalam belajar, orang dewasa harus dilibatkan dari mulai mengidentifikasi kebutuhan permasalahan yang ingin dibahas, merancang desain pembelajaran, sampai pada tahap evaluasi dari proses pembelajaran tersebut. Artinya, sumber belajar pada proses pembelajaran orang dewasa, cenderung tidak berperan sebagai tutor, melainkan sebagai fasilitator yang harus berinteraksi secara aktif dengan warga belajar didik selama perencanaan, proses, sampai pada hasil pembelajaran.
Konsep orang dewasa belajar harus benar-benar dipahami, baik oleh penyelenggara maupun oleh pendidik sebagai fasilitator. Pendidik sebagai fasilitator akan lebih mudah dalam merancang situasi pembelajaran yang diinginkan melalui pemahaman terkait dengan beberapa prinsip tersebut, terutama terkait dengan bagaimana ia harus membuka dan menutup proses pembelajaran agar warga belajar didik orang dewasa tidak mengalami kejenuhan.
d. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Orang Dewasa
Pendidikan orang dewasa berlangsung sepanjang hidup (life long education), mandiri dan independen. Artinya pendidikan orang dewasa tidak terikat pada ruang tertentu, dan materi yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar terutama didasari pengalaman warga belajar. Metode pembelajaran yang digunakan pun sebaiknya bersifat demokratis, terbuka, saling menghargai dan berbagi pengalaman yang akan dibantu oleh pendidik sebagai fasilitator.
Orang dewasa melakukan proses belajar karena tuntutan peranannya dalam masyarakat. Kesiapan belajar mereka timbul bukan karena tuntutan akademik tetapi lebih disebabkan oleh kebutuhan dalam upaya mengatasi permasalahan hidupnya.
Hervy Hosfiar dalam tulisannya yang berjudul Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa, memaparkan fungsi dari Andragogi sebagai berikut:
Pendidikan orang dewasa berfungsi untuk menuntun orang dewasa dalam proses belajar mengajar dalam rangka pengembangan kemampuan dan pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, yang mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku. Hal ini akan menjadikan perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya.[6]
Pernyataan di atas menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa sangat bermanfaat bagi diri orang dewasa itu sendiri, karena selain mampu mengembangkan kemampuan dan pengetahuan, pendidikan orang dewasa juga mampu menjawab dan memecahkan permasalahan yang dihadapi orang dewasa, terutama terkait dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya, baik dari segi ekonomi, sosial, dan sebagainya. Pendidikan orang dewasa mampu menjadi alternatif solusi yang konkrit karena pengadaannya juga disesuaikan dengan kondisi dari orang dewasa sebagai warga belajar didik.
Pendidikan orang dewasa, selain memiliki fungsi juga memiliki tujuan dari setiap pengadaannya, yang tentunya disesuaikan dengan permasalahan dan materi yang diambil. Secara umum, tujuan dari pengadaan pendidikan orang dewasa dapat dijabarkan sebagai berikut.
  1. Terbentuknya sikap yang lebih mantap dan lebih meningkatkan pengetahuan serta kecakapan atau keterampilan para warga masyarakat sehingga dapat lebih fungsional dalam pembangunan masyarakat.
  2. Meningkatnya kemampuan individu sebagai warga masyarakat dalam mengadaptasikan dirinya dengan perubahan-perubahan lingkungan sekitar.
  3. Meningkatkan mutu kehidupan masyarakat yang gemar belajar.
  4. Berkembangnya sistem, metode dan teknik pendidikan dalam masyarakat sehingga keseluruhan sistem pendidikan nasional dapat berfungsi sebagai kegiatan pendidikan yang bersifat komplementer dan suplementer terhadap pendidikan formal serta pendidikan non formal sebagai salah satu dari alternatif.
  5. Berkembangnya mutu pendidikan yang lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat untuk semua bentuk atau jenis usaha pendidikan dengan sistem penyajian yang lebih efektif dan efisien.[7]
Pemaparan tujuan pengadaan pendidikan orang dewasa di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dan tujuan dari pendidikan orang dewasa sangat tergantung dari permasalahan dan kebutuhan dari warga belajar didiknya. Sifat dari pengadaan pendidikan orang dewasa yang fleksibel juga berpengaruh pada proses belajarnya. Metode dan penyampaian yang digunakan oleh pendidik sebagai fasilitator haruslah interaktif dan tidak bersifat mengtutori, sehingga hasil belajar dapat dicapai secara optimal. Pada pendidikan orang dewasa seorang fasilitator juga harus mengetahui prinsip-prinsip belajar orang dewasa, hal ini dikarenakan pola pendidikan orang dewasa didasari oleh prinsip-prinsip belajar orang dewasa.
e.      Penerapan Pendidikan Orang Dewasa dalam Pembelajaran
Penggunaan model pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa berimplikasi pada penggunaan media pembelajaran yang dipandang cocok digunakan di dalam menumbuhkan perilaku warga belajar. Knowles mengklasifikasi teknik pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar berdasarkan tipe kegiatan belajar, yakni sikap, pengetahuan dan keterampilan.[8]
Kegiatan belajar pada pendidikan orang dewasa dengan sifatnya yang fleksibel masih merupakan kegiatan belajar yang paling efektif dan efisien dalam membantu orang dewasa belajar, oleh karena itu model pembelajaran diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Metode belajar orang dewasa adalah cara mengorganisir warga belajar didik agar mereka melakukan kegiatan belajar, baik dalam bentuk kegiatan teori maupun praktek.
Model pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar harus berpusat pada masalah, menuntut dan mendorong warga belajar untuk aktif, mendorong warga belajar untuk mengemukakan pengalaman sehari-harinya, menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama warga belajar, dan antara warga belajar dengan tutor, dan lebih bersifat pemberian pengalaman, bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan merangsang minat warga belajar didik orang dewasa untuk aktif berpartisipasi selama proses pembelajaran. Melalui pemilihan model yang tepat, maka mereka akan lebih cepat memahami materi yang disampaikan, yang akhirnya berujung pada optimalisasi hasil belajar para warga belajar didik orang dewasa tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar